Milea : Suara dari Dilan
Judul : Milea (Suara
dari Dilan)
"Saat SMA pun aku merasa jadi orang yang mulai berpikir bahwa ketidakpastian tidak akan memakanku hidup-hidup"
Diizinkan atau
tidak, saya sudah dan akan meyakini bahwa Dilan itu Pidi Baiq dan Pidi Baiq
adalah Dilan. Sekalipun dalam halaman awal buku Milea, Dilan bercerita bahwa
penulisan buku ini dimulai dari pertemuannya dengan Pidi Baiq. Oke, anggap saja
mereka bertemu dalam pikirannya sendiri, dalam monolog antara Pidi dan Dilan.
Sebagai orang yang
sudah membaca Dilan 1 dan 2 saya sedikit banyak penasaran juga dengan buku ini.
Dan tidak bisa berlama-lama untuk membiarkannya ngantri dengan buku-buku lain
yang padahal sudah saya beli lebih dulu.
Dalam buku
sebelumnya, yaitu Dilan 1 dan Dilan 2, Milea bercerita dengan sudut pandang
orang pertama. Sehingga apa yang ada di pikiran selain dia tidak
diketahuinya, khususnya Dilan. Nah, Pidi Baiq menjawab semua rasa penasaran
saya dengan buku ini.
Meskipun diberi
judul Milea, buku ini tidak seluruhnya bercerita tentang Milea. Ada dua
kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah karena banyak yang sudah diceritakan
oleh Milea dalam Dilan 1 dan Dilan 2. Kemungkinan kedua adalah karena Pidi Baiq
ingin menyampaikan banyak informasi, dan banyak pesan di luar penceritaan kisah
cinta Dilan dan Milea. Dan informasi tersebut bisa tersampaikan dengan
kisah-kisah yang lain.
Salah satu yang
menarik bagi saya adalah banyak gagasan-gagasan tentang parenting dengan
menceritakan kehidupan keluarga Dilan. Tentang seperti apa Dilan dibesarkan,
dan seperti apa juga Dilan menyikapi cara kedua orang tuanya dalam mengasuh
dirinya. Sama sekali tidak dibuat dengan terlalu menggurui atau tata cara yang
rumit. Bagi saya apa yang ingin Dilan sampaikan tentang kedua orang tuanya
adalah bahwa mereka membesarkan Dilan dengan komunikasi yang baik dan penuh
pengertian satu sama lain.
Lebih dari itu,
Dilan tumbuh menjadi anak yang memiliki hati yang baik. Dia memang anggota geng
motor, tapi dalam setiap tindakannya Dilan selalu punya banyak pertimbangan.
Dan dalam pertimbangan tersebut satu hal yang selalu dijaganya adalah agar
dirinya jangan sampai merugikan orang lain.
Tapi inti dari buku
ini saya rasa ada di halaman-halaman belakangnya. Yaitu saat Dilan dan Milea
akhirnya sama-sama tahu tentang kesalahdugaan mereka sebelumnya dan memilih
untuk bersikap tidak egois dengan bertahan pada cinta yang telah dimiliki oleh
masing-masing dari mereka.
Hmm mm m, tapi itu
bukan membohongi diri sendiri kan ya?
Ah sudahlah, toh
pada akhirnya jalan hidup akan menemukan caranya masing-masing untuk
tertuliskan menjadi takdir.
"Mudah-mudahan, setelah ini, kita bisa menjadi bijaksana dengan tidak mengadili masa lalu oleh keadaan di masa kini"

Comments
Post a Comment