Milea : Suara dari Dilan


Judul : Milea (Suara dari Dilan)
Penulis : Pidi Baiq
Rating : 4/5



"Saat SMA pun aku merasa jadi orang yang mulai berpikir bahwa ketidakpastian tidak akan memakanku hidup-hidup"

Diizinkan atau tidak, saya sudah dan akan meyakini bahwa Dilan itu Pidi Baiq dan Pidi Baiq adalah Dilan. Sekalipun dalam halaman awal buku Milea, Dilan bercerita bahwa penulisan buku ini dimulai dari pertemuannya dengan Pidi Baiq. Oke, anggap saja mereka bertemu dalam pikirannya sendiri, dalam monolog antara Pidi dan Dilan.

Sebagai orang yang sudah membaca Dilan 1 dan 2 saya sedikit banyak penasaran juga dengan buku ini. Dan tidak bisa berlama-lama untuk membiarkannya ngantri dengan buku-buku lain yang padahal sudah saya beli lebih dulu.

Dalam buku sebelumnya, yaitu Dilan 1 dan Dilan 2, Milea bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Sehingga apa yang ada di pikiran selain dia tidak diketahuinya, khususnya Dilan. Nah, Pidi Baiq menjawab semua rasa penasaran saya dengan buku ini.

Meskipun diberi judul Milea, buku ini tidak seluruhnya bercerita tentang Milea. Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah karena banyak yang sudah diceritakan oleh Milea dalam Dilan 1 dan Dilan 2. Kemungkinan kedua adalah karena Pidi Baiq ingin menyampaikan banyak informasi, dan banyak pesan di luar penceritaan kisah cinta Dilan dan Milea. Dan informasi tersebut bisa tersampaikan dengan kisah-kisah yang lain.

Salah satu yang menarik bagi saya adalah banyak gagasan-gagasan tentang parenting dengan menceritakan kehidupan keluarga Dilan. Tentang seperti apa Dilan dibesarkan, dan seperti apa juga Dilan menyikapi cara kedua orang tuanya dalam mengasuh dirinya. Sama sekali tidak dibuat dengan terlalu menggurui atau tata cara yang rumit. Bagi saya apa yang ingin Dilan sampaikan tentang kedua orang tuanya adalah bahwa mereka membesarkan Dilan dengan komunikasi yang baik dan penuh pengertian satu sama lain.

Lebih dari itu, Dilan tumbuh menjadi anak yang memiliki hati yang baik. Dia memang anggota geng motor, tapi dalam setiap tindakannya Dilan selalu punya banyak pertimbangan. Dan dalam pertimbangan tersebut satu hal yang selalu dijaganya adalah agar dirinya jangan sampai merugikan orang lain.

Tapi inti dari buku ini saya rasa ada di halaman-halaman belakangnya. Yaitu saat Dilan dan Milea akhirnya sama-sama tahu tentang kesalahdugaan mereka sebelumnya dan memilih untuk bersikap tidak egois dengan bertahan pada cinta yang telah dimiliki oleh masing-masing dari mereka.

Hmm mm m, tapi itu bukan membohongi diri sendiri kan ya?

Ah sudahlah, toh pada akhirnya jalan hidup akan menemukan caranya masing-masing untuk tertuliskan menjadi takdir.

"Mudah-mudahan, setelah ini, kita bisa menjadi bijaksana dengan tidak mengadili masa lalu oleh keadaan di masa kini"

Comments

Popular posts from this blog

Masker Penutup Wajah (Face Mask Pattern and Tutorial)

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran