Pemakaman
Salah satu tempat yang belakangan lebih sering aku kunjungi dibanding dengan saat aku masih kecil adalah pemakaman. Rasanya juga berbeda sekali dengan saat dulu aku memasukinya, tepatnya berubah seketika saat bapak meninggal. Dulu, aku hanya mengunjungi pemakaman sesaat sebelum ramadhan seperti kebanyakan orang. Tidak ada yang spesial dari mencabuti rumput dan menyapu daun kering di sekitar makam mbah serta pendahuluku di sekitarnya. Ibu akan menyebutkan satu per satu nama yang biasa dia sebut dan posisi nama itu di silsilah keluarga kami. Tapi toh aku tidak kunjung hafal. Salah satu atau dua aku pernah bertemu, yang lainnya hanya sekedar nama. Waktu kecil di desa aku mengaji sehabis maghrib di rumah seorang guru ngaji yang kebetulan bersebelahan dengan pemakaman desa. Meskipun tidak terlihat secara jelas nisan di sana karena dikerumuni oleh pohon bambu yang lebat, tapi pemakaman bagiku punya atmosfer tersendiri. Ia seperti terpisah dari kita. Memasukinya memerlukan momen dan ritua...