A Lifetime Job
Pelajaran dari menjadi seorang ibu buatku pribadi nggak berhenti ketika anak kelak sudah mandiri dan bisa melakukan apa saja tanpa kita ibunya. Karena menjadi ibu ternyata adalah sebuah pengorbanan dan pertaruhan seumur hidup. Tanpa mengkerdilkan peran perempuan-perempuan lain yang belum/tidak menjadi ibu, peran ini sebenarnya adalah berkah sekaligus kutukan -seumur hidup-.
Jenis pekerjaan yang ketika awal masuk kita ngga benar-benar tau apa yang nanti akan kita jalani. Dan begitu kita sudah di dalamnya kita heran sendiri "kenapa dari awal aku mau jadi begini" tapi waktu udah ngga bisa diputar. Bukan cuma pertaruhan harta dan nyawa, tapi pertaruhan seluruh hidup selamanya.
Aku belum pernah mencintai seseorang sebesar aku mencintai anakku. Dan konsekuensi mencintai adalah, sedalam apa cinta itu maka sedalam itu juga luka yang bisa diakibatkan dari mencintai.
Pernah suatu ketika seorang teman bertanya "Mbak, kalo misal anak mba dewi sakit, terus ibu di kampung juga sakit, Mba Dewi pilih ngurus yang mana?"
Meskipun nggak langsung terucap, dalam hati aku menjawab "anakku". Lalu aku jelaskan di kampung masih ada adek dan saudara.
"Kalo misalnya kondisinya ibu mba dewi sendirian, mba dewi pilih yang mana?"
Meski ragu, tapi aku tau persis hatiku memilih kalo aku ngga bisa ninggalin anakku. Jadi akhirnya kujawab "aku pulang kampung tapi anak aku bawa"
Dan dalam momen yang sama aku pun menyadari satu hal bahwa, cintanya anak ngga akan pernah sebesar cinta ibunya kepada dia. Temanku mungkin cuma iseng bertanya.
Tapi dari percakapan itu aku kemudian memposisikan diri sebagai ibuku. Dan menakjubkan untuk sampai pada pemahaman bahwa sebesar itu berarti ibu mencintaiku. Sama seperti sekarang aku mencintai anakku.
Aku sayang sekali dengan ibu tapi ngga akan pernah mampu menandingi cintanya kepadaku. Kesedihan ibu adalah kesedihanku, bahagianya juga kebahagiaanku. Dan hubungan sebaliknya, kesedihanku tentu adalah kesedihannya.
Dan betapa besarnya kuasa Allah membuat perasaan ini sebegitu rumit dan halusnya. Meskipun berjarak ratusan kilometer, tanpa melihat raut wajahnya aku tau seberat apa hatinya saat ini melihat anak pertamanya sakit. Aku mungkin anak yang seringkali dibanggakan tapi aku tau betul anak kesayangan ibu adalah anak pertamanya. Seperti aku menyayangi zawqi sekarang. Aku ngga bisa membayangkan sesedih apa hatinya melihat anaknya sakit.
Karena setiap kali zawqi sakit aku selalu berharap aku saja yang menggantikan posisinya untuk sakit. Dan ketika seorang ibu berkata dia rela mati demi anaknya, aku mengerti betul kalimat itu serius.
🌻
Setelah selesai menulis ini sekitar pukul 10.37, pukul 11.06 mamas meninggal dunia.
Comments
Post a Comment