Pemakaman
Salah satu tempat yang belakangan lebih sering aku kunjungi dibanding dengan saat aku masih kecil adalah pemakaman. Rasanya juga berbeda sekali dengan saat dulu aku memasukinya, tepatnya berubah seketika saat bapak meninggal.
Dulu, aku hanya mengunjungi
pemakaman sesaat sebelum ramadhan seperti kebanyakan orang. Tidak ada yang
spesial dari mencabuti rumput dan menyapu daun kering di sekitar makam mbah
serta pendahuluku di sekitarnya. Ibu akan menyebutkan satu per satu nama yang
biasa dia sebut dan posisi nama itu di silsilah keluarga kami. Tapi toh aku tidak
kunjung hafal. Salah satu atau dua aku pernah bertemu, yang lainnya hanya
sekedar nama.
Waktu kecil di desa aku mengaji
sehabis maghrib di rumah seorang guru ngaji yang kebetulan bersebelahan dengan
pemakaman desa. Meskipun tidak terlihat secara jelas nisan di sana karena
dikerumuni oleh pohon bambu yang lebat, tapi pemakaman bagiku punya atmosfer
tersendiri. Ia seperti terpisah dari kita. Memasukinya memerlukan momen dan
ritual khusus. Saking terpisahnya, anak-anak yang mengaji pun pamali mengacungkan
jari ke arahnya, pun jarang sekali menatap lebih dalam kesana khawatir malah
melihat yang tidak ingin kami lihat lalu tidak mau berangkat mengaji lagi.
Katanya ketakutan adalah buah
dari ketidaktahuan. Semakin kita mengenal dan tahu semakin rasa takut itu
terurai dan menguap sedikit demi sedikit. Dalam diriku, rasa takut dengan
pemakaman berubah menjadi lebih bersahabat seiring dengan orang-orang yang
dekat denganku ‘menetap’ disana. Bahkan terkadang ada kerinduan untuk
mengunjunginya, tidak ada lagi atmosfer pemisah.
Sekarang aku bisa merasakan apa
yang mungkin dulu ibuku rasakan ketika mengunjungi pemakaman mbah dan pendahulu
kami. Mencabuti rumput di atasnya seperti sebuah koneksi dan bahasa cinta. Menyapu
daun-daun kering di sekitarnya adalah obrolan yang mengisyaratkan “aku ingin
sedikit lebih lama disini”. Serta doa-doa yang kupanjatkan di samping kubur
adalah buah terima kasih atas kenangan-kenangan yang pernah kami lalui, dengan
Bapak, dengan Mamas, dan dengan orang-orang yang pernah beririsan waktu
hidupnya denganku.
Sebelum pergi setelah berdoa di
pemakanan, aku sering menatap sekitar hanya untuk menyadari bahwa orang-orang
disana adalah orang-orang yang pernah sama seperti kita saat ini. Berjalan
terus hari demi hari, dari pagi ke pagi, tahun ke tahun, tanpa tahu di petak
mana kelak dan pasti kita pun akhirnya akan ikut ‘menetap’.
Perasaan kehilangan akan kepergian
mereka masih timbul dan tenggelam seiring dengan kesibukan yang aku jalani,
tidak jarang muncul dalam setetes air mata atau sesak di tenggorokan. Menyadari
ada kerinduan yang tak mungkin dilepaskan, memahami bahwa seseorang bisa
benar-benar hilang direnggut takdir, dan entah kutukan atau privilese bagi
manusia di masa kini untuk bisa melihat dan mendengar suara mereka yang sudah
pergi. Karena saat mendengar atau melihat rekaman/foto mereka kerinduan itu lebih
menakutkan ketimbang ketakutanku dengan pemakaman saat kecil.
Ingin sekali rasanya bisa kembali
ke masa dimana aku takut dengan pemakaman sepulang ngaji lalu menemui mereka
yang ternyata dulu jarang sekali aku rindukan, yang keberadaannya dulu kupikir
adalah hal remeh dan biasa.
Untuk Bapak dan Mamas yang sudah bersama disana,
Depok, 27 Desember 2024
Maaf aku masih kangen kalian
Comments
Post a Comment