2021: What I've Learned
Tahun 2021 pasti punya warna tersendiri untuk masing-masing orang. Buatku 2021 cukup menakjubkan dan kalo melihat ke belakang rasanya percaya ngga percaya aku bisa melewatinya. Tahun ini ada satu momen yang sangat nggak disangka-sangka dan berat banget buatku dan keluargaku. Bulan Juli lalu Bapak pergi untuk selama-lamanya ninggalin aku, ibu, indah dan mamas. Qodarullah Bapak terpapar virus covid-19 dan dirawat oleh keluarga di rumah kurang lebih selama seminggu sebelum akhirnya kondisi beliau memburuk. Bapak ngga mau dibawa ke rumah sakit karena berita hoaks yang beredar dimana-mana ternyata jauh lebih berbahaya dan dipercaya. Bapak takut dicovidkan dan tidak mau diisolasi karena banyak sekali yang menyebutkan covid ini akal-akalan pemerintah, pasien yang dicovidkan lalu "dibuat meninggal" dan rumah sakit akan menerima keuntungan. Sampai saat ini aku masih merasa sedikit menyesal kenapa aku gagal mengedukasi keluargaku sendiri hal sepenting ini. Seandainya saja waktu itu, ya sudahlah. Mungkin sudah jalannya begitu, untuk jadi pelajaran bagi yang masih diberi kesempatan hidup.
Bapak akhirnya dirawat di rumah sakit setelah tidak sadarkan diri dan kami berusaha mencarikan bed di rumah sakit untuk Bapak. Saat itu kasus covid sedang tinggi di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Beruntungnya aku bisa pulang ke Kebumen dan diberi kesempatan untuk bertemu Bapak saat beliau masih sadar, meskipun sudah sulit diajak berkomunikasi karena kesulitan bernapas. Sampai detik aku menuliskan ini aku masih merasa Bapak masih ada di Kebumen, menungguku di stasiun kalau aku pulang. Bapak orang yang kuat dan tidak punya rasa takut. Seolah Allah mau mengatakan orang sekuat Bapak dan sepemberani Bapak tidak berdaya oleh virus yang tidak terlihat. Betapa lemahnya manusia. Tidak ada yang kuat kecuali Allah yang memberinya kekuatan, tidak ada yang berani kecuali Allah yang memberi keberanian. Semoga Bapak mendapatkan tempat yang terbaik di sana, semoga Bapak bahagia ditemani amal-amal shalihnya, aamiin.
Sebelum kepergian Bapak, ART ku ijin untuk pulang ke rumahnya, ternyata si mbak nggak balik lagi dengan alasan anaknya tidak mau jauh-jauh dari dia. Setelah kurang lebih 3 bulan wfh, aku kembali ke Bandung. Karena tak kunjung menemukan ART pengganti akhirnya diputuskan untuk menitipkan anakku ke mantan pengasuh anak teman kantor, rumahnya persis di sebelah kantor. Saat itu pertimbangannya adalah itu pilihan adalah pilihan paling mungkin yang ada karena daycare belum menerima kembali bayi di bawah 2 tahun, kalaupun menerima kami harus rela masuk waiting list. Alhamdulillah, sejauh ini hampir tidak ada masalah berarti. Dengan pilihan ini artinya aku yang masih LDM sama suami harus mengurus anak sendirian.
Berat memang, tapi ternyata lama-lama terbiasa juga, terbiasa berat, wkwk. Konsekuensinya adalah aku harus membereskan semua pekerjaan ketika anak sudah tidur yang artinya jam tidurku sangat berkurang. Aku harus tidur lebih malam dan bangun lebih pagi. Apakah setiap hari selalu lancar? Tentu tidak. Ada hari dimana aku bangun kesiangan dan harus masak nyambi ngajak main anak. Ada hari dimana cucianku numpuk karena hari sebelumnya aku udah kecapean berat dan ngga bisa ngapa-ngapain lagi cuma pengen tidur. Ada hari dimana aku ngga mandi karena ketiduran nyusuin anak. Yang paling berat? Adalah ketika aku udah capek maksimal banget udah lemes trus anak tantrum nangis-nangis dan seperti anak tantrum pada umumnya, apa maunya nggak jelas. Mau ikutan nangis tapi anakku butuh aku untuk tetep nenangin dia, untuk tetep waras dan untuk tetep hadir 100% walaupun ragamu tinggal 5%. Sampai sekarang kalo diinget-inget apa yang bikin aku bertahan di fase seberat itu rasanya mustahil kalo bukan Allah yang memampukan.
Jadi seorang ibu mengajariku banyak hal. Dari semua hal itu satu yang paling aku rasakan, yaitu tentang kebijaksanaan. Kebijaksanaan mengantarkanku pada sabar, pada ikhlas, pada nrimo, dan kebijaksanaan mengantarkanku pada hal-hal baik yang ingin kuajarkan untuk anakku yang tentunya harus kucontohkan terlebih dulu.
Comments
Post a Comment