Multiperan

Di tengah-tengah menjalani peran sebagai seorang ibu, kadang-kadang aku rindu masa-masa punya banyak sekali waktu luang, bisa nonton series sampai begadang-begadang, bisa baca buku (juga sampai begadang), bisa tidur seharian, bisa main gitar, bisa jalan-jalan ke gramed kaya orang ilang dan masih banyak lagi. 

Bagi siapapun itu bisa sekali dimaknai sebagai ketidakbersyukuran atas keadaan, tapi aku juga sadar bahwa bukan itu inti sebenarnya. Aku merindukan momen itu tapi bukan berarti aku nggak suka dengan hidupku yang sekarang. Karena kita bisa lho merindukan sesuatu (yang sudah tidak ada) tanpa perlu tidak menyukai apa yang kita miliki. Kenapa? Karena yang aku rindukan bisa jadi hanya the pleasure of having free time, but i don't miss the rest

Seringnya kumat begini kalo aku lagi bener-bener habis energi di kantor dan di rumah. Bisa dibilang, aku menghabiskan sebagian besar energi itu ya di kantor. Ketika sampai di rumah dengan sisa-sisa energi, ada anak yang mau tidak mau dia butuh ibunya sebagai teman main dan itu haknya.  

Ketika peran itu bertambah dari sebelumnya aku adalah wanita bekerja (?) saja menjadi ibu bekerja, ada semacam kekagetan dalam peralihan peran ini, atau lebih tepatnya penambahan peran.

Aku paham ada banyak perempuan yang menjalani multiperan dengan santuy aja no sambat sambat (adakah?). Tapi aku juga yakin ngga sedikit yang jungkir balik buat tetep waras. Ada banyak faktor di balik itu semua: lingkungan, trauma masa lalu, support system, apa lagi?. Karena pada praktiknya aku juga nggak sambat-sambat setiap saat. Ada naik turunnya. Dalam banyak kesempatan aku berusaha untuk menjalani peran ini sebisanya dijalani, tapi di saat-saat tertentu ada hal-hal yang memantik untuk aku sampai ke level ngeluh tadi.

Zawqi anak yang sangat lovable dan ceria, dia seneng banget kalo ada ibunya di rumah. Jadi ketika ada ibunya di rumah dia akan 'nempel' terus dan lebih manja dibandingkan ketika ngga ada ibunya. Dia akan sangat mencari perhatian ibunya, dia akan lebih susah tidur kalo ada ibunya. Awalnya aku ngga ngerti kenapa dia punya kebiasaan itu, tapi setelah aku amati, dia memanfaatkan momen 'mumpung ada ibu'. Di postingan lain mungkin aku akan cerita betapa seorang ibu ngga perlu disalah-salahin lagi dengan menjadi ibu bekerja. 

Di momen 'mumpung ada ibu' itu semua perhatian ibu harus untuk Zawqi dan hanya untuk Zawqi. Pada saat-saat tertentu aku ngga boleh ngobrol sama bapaknya atau sama siapapun di rumah, aku ngga boleh ngga liatin dia. Misal aku sedang baca buku dia akan berusaha mencari cara agar perhatian ibunya tetap ke dia. Ketika aku sedang makan dia akan minta pangku dan seterusnya nempel ke ibu. 

Itulah momen aku merasa ngga bisa ngapa-ngapain. Meskipun semua pekerjaan rumah sudah dibantu sama mbak yang seharusnya aku masih bisa melakukan banyak hal, tapi toh tidak segampang itu.

Aku bukan satu-satunya orang yang menjalani multiperan sebagai ibu bekerja ini dan tentu saja setiap orang menjalani dan memaknainya dengan berbeda-beda pula. Bagiku multiperan seperti sekarang ini adalah lompatan besar dalam hidup, setidaknya itu yang aku alami. Ini berpengaruh banget sama caraku berpikir, caraku mengambil keputusan dan bersikap terhadap suatu isu atau motivasi dalam melakukan apa yang aku lakukan sekarang.

Untuk waktu yang cukup lama aku sering punya kekaguman sama orang yang menurutku sudah melakukan hal-hal hebat yang untuk sampai ke titik tersebut perjuangannya ngga mudah, atau yang punya pencapaian-pencapaian luar biasa yang tentu saja aku nggak bisa capai. I envy them

Ngga semua dari mereka itu tokoh besar atau orang terkenal atau penulis hebat. Beberapa ya rekan-rekan kerja atau teman lama yang membuat aku merasa belum ngapa-ngapain di dunia ini. Wkwk. Di posisiku saat ini dan semakin bertambahnya umur tentunya semakin sulit untuk bisa punya pencapaian orang-orang keren itu dong.

Sampai aku sadar bahwa hal hebat yang mereka lakukan dan aku lihat adalah bagian kecil dari hal-hal kecil yang mereka (sudah) lakukan (dengan tidak mudah) dan nggak aku lihat. 

Kayaknya memang umur pengaruh banget sama kebijaksanaan seseorang. Meskipun tidak semua yang sudah berumur mampu untuk bersikap bijak. Aku ngga yakin di usiaku 10 tahun lalu bisa legowo mempunyai kesimpulan seperti ini: buat aku yang menjalani, rasanya seperti ngga ada pencapaian apa-apa karena kemenangan atau pencapaian di peranku itu ngga simbolis atau dirayakan dengan naik podium atau tepuk tangan. Buat aku sekarang, bisa tetap tenang menghadapi anak adalah sebuah kemenangan juga. Karena sebaliknya, perasaan bersalah menjadi seorang ibu -setidaknya yang aku rasakan selama ini- adalah ketika aku ngga bisa menahan marah. Aku selalu dan hampir pasti nyesel sehabis marah-marah ke Zawqi.

Betul bahwa marah itu manusiawi. Tapi menaklukan amarah dan mempunyai kemampuan untuk ngerem, untuk jeda sejenak ketika kemarahan udah di ubun-ubun siap meledak is another level of winning for a mom (read:me).

Meski demikian aku juga belum 'master' dalam hal itu. Aku cuma baru punya komitmen bahwa untuk aku dengan peran saat ini, pencapaian dan keberhasilanku adalah rentetan sabar, dedikasi waktu dan energi untuk Zawqi serta rentetan belajar-belajar lain yang mungkin aku dapatkan dari multiperan ini.

Sehingga kalo suatu saat aku kagum dengan pencapaian orang lain, kekaguman itu adalah keyakinan bahwa orang lain sedang melakukan yang terbaik dalam menjalani perannya dan menjadi pengingat kalo aku juga bisa melakukan yang sama dalam bentuk lain sesuai dengan peranku. Aku punya cukup keyakinan bahwa masing-masing punya kesulitannya sendiri ketika dijalani dan tidak perlu mengharuskan siapapun untuk memakai sepatu orang lain apalagi membandingkannya.

Comments